Ka. UPT Bahasa diundang sebagai Invited Speaker pada Konferensi Internasional OCERI 2026, Angkat Peran AI dalam Transformasi Pendidikan
Bengkulu, 26 September 2026-Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu, Dr. Dedi Efrizal, M.Pd., mendapat kehormatan sebagai Invited Speaker dalam Online Conference of Educational Research International (OCERI) Batch 4 Tahun 2026, yang diselenggarakan oleh Program Studi Doktor Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Bengkulu.
Konferensi internasional yang mengusung tema “Fostering Super Smart People for the SDGs: The Symbiosis of AI, Deep Learning, and Machine Learning in Educational Transformation” tersebut dilaksanakan secara daring melalui Zoom Meeting pada Sabtu, 26 September 2026. Kehadiran Dr. Dedi Efrizal sebagai invited speaker menjadi salah satu bentuk kontribusi akademisi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam forum ilmiah yang mempertemukan peneliti, pendidik, praktisi, dan pemangku kebijakan dari berbagai latar belakang.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Dedi Efrizal menyampaikan materi berjudul “Membentuk Insan Super Cerdas untuk SDGs: Simbiosis Kecerdasan Buatan, Pembelajaran Mendalam, dan Pembelajaran Mesin dalam Transformasi Pendidikan” (Fostering Super Smart People for the SDGs: The Symbiosis of AI, Deep Learning in Education, and Machine Learning in Educational Transformation).
Tekankan Pendidikan Tidak Boleh Sekadar Mengikuti Perkembangan Teknologi
Dalam paparannya, Dr. Dedi mengajak peserta konferensi melihat perkembangan kecerdasan buatan (AI) secara lebih kritis dan konstruktif. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak semestinya membuat pendidikan kehilangan orientasi pada manusia.
Ia membuka presentasinya dengan pertanyaan reflektif: “Jika kini sebuah mesin mampu menyusun esai, menyelesaikan persamaan, dan menerjemahkan satu paragraf hanya dalam hitungan detik, lalu apa yang tersisa bagi pendidikan?”
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab dengan penekanan bahwa pendidikan tetap memiliki ruang yang tidak dapat begitu saja digantikan oleh mesin, yakni kearifan dalam menimbang, pencarian makna, pembentukan karakter, serta tanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.
“Insan super cerdas bukanlah orang yang mampu mengungguli mesin dalam berhitung. Ia adalah pribadi yang cerdas bersama teknologi sekaligus bijak melampaui teknologi,” demikian gagasan utama yang disampaikan dalam paparannya.
Menurut Dr. Dedi, tantangan pendidikan di era AI bukan sekadar bagaimana peserta didik dapat menggunakan teknologi, tetapi bagaimana teknologi tersebut diarahkan untuk membangun manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, berkarakter, mampu berkolaborasi, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan nyata di masyarakat.
Perkenalkan Kerangka Simbiosis 3S
Salah satu bagian penting dari paparan Dr. Dedi adalah pengenalan Kerangka Simbiosis 3S: Sense, Support, dan Significance. Kerangka tersebut ditawarkan sebagai sintesis konseptual untuk menjelaskan bagaimana AI, machine learning, dan pedagogi pembelajaran mendalam dapat ditempatkan dalam hubungan yang saling melengkapi. Ia menegaskan bahwa kerangka tersebut merupakan sintesis konseptual yang masih terbuka untuk diuji dan dikembangkan melalui penelitian lebih lanjut.
Sense berkaitan dengan kemampuan teknologi, khususnya machine learning dan learning analytics, dalam membaca pola proses pembelajaran, seperti perkembangan peserta didik, miskonsepsi, serta perubahan keterlibatan belajar.
Sementara Support menempatkan AI sebagai mitra adaptif yang dapat membantu memberikan dukungan dan umpan balik yang lebih personal kepada peserta didik.
Adapun Significance menjadi ruang utama pedagogi pembelajaran mendalam, yaitu memastikan bahwa proses belajar memiliki makna, terhubung dengan persoalan nyata, serta mengandung nilai bagi kehidupan peserta didik dan masyarakat.
“Mesin dapat menyediakan Sense dan Support, tetapi hanya komunitas manusia yang dapat menghadirkan Significance, yaitu rasa bahwa belajar itu bermakna, terhubung dengan persoalan nyata, dan membawa nilai,” jelasnya dalam materi konferensi.
Angkat Contoh Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis AI
Sebagai akademisi yang memiliki perhatian pada bidang pembelajaran bahasa, Dr. Dedi juga memberikan ilustrasi penerapan kerangka tersebut dalam pembelajaran bahasa Inggris.
Ia menggambarkan sebuah pembelajaran berbicara yang mengangkat persoalan nyata, misalnya akses terhadap air bersih yang berkaitan dengan SDG 6. Dalam skema tersebut, teknologi digunakan untuk menganalisis rekaman berbicara dan tugas mahasiswa, memberikan umpan balik, serta membantu mahasiswa mengembangkan kemampuan berbahasa.
Namun, proses pembelajaran tidak berhenti pada interaksi dengan AI. Mahasiswa diarahkan untuk turun ke lingkungan, menyelidiki persoalan air, mewawancarai masyarakat, bekerja dalam kelompok, dan menyampaikan rekomendasi kepada audiens yang sesungguhnya.
Pada tahap akhir, mahasiswa juga diminta mengkritisi saran yang diberikan AI, mendokumentasikan penggunaan AI, serta mendiskusikan persoalan etika yang muncul. Dengan demikian, AI ditempatkan sebagai alat pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir mahasiswa maupun peran dosen.
Tekankan Etika, Keadilan, dan Peran Guru
Dalam forum internasional tersebut, Dr. Dedi juga memberikan perhatian khusus terhadap berbagai risiko penggunaan AI dalam pendidikan, di antaranya bias algoritmik, persoalan etika, ketergantungan berlebihan terhadap teknologi, dan ketidaksetaraan akses.
Ia menegaskan bahwa transformasi pendidikan berbasis AI harus tetap menempatkan guru dan dosen sebagai perancang pembelajaran sekaligus pengambil keputusan. Menurut kerangka yang disampaikannya, penggunaan AI harus transparan, dapat dinilai, dan diarahkan pada tujuan pembelajaran yang autentik.
“Tujuannya bukan mesin yang lebih cerdas di setiap ruang kelas. Tujuannya adalah manusia yang lebih bijak di setiap komunitas,” menjadi salah satu pesan penutup yang disampaikan Dr. Dedi dalam presentasinya.
Perkuat Kiprah Akademik UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu
Keterlibatan Dr. Dedi Efrizal sebagai invited speaker dalam konferensi internasional tersebut sekaligus menunjukkan semakin terbukanya ruang kontribusi akademisi UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu dalam percakapan akademik di tingkat internasional, khususnya dalam isu transformasi pendidikan, kecerdasan buatan, pembelajaran bahasa, dan pengembangan sumber daya manusia.
Bagi UPT Bahasa UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, forum tersebut juga memiliki arti strategis karena isu AI dan transformasi pembelajaran bahasa menjadi bagian penting dari perkembangan pendidikan tinggi saat ini. Gagasan yang disampaikan Dr. Dedi memperlihatkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pendidikan bahasa perlu diarahkan bukan hanya untuk meningkatkan efisiensi pembelajaran, tetapi juga untuk membangun kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, kolaborasi, dan tanggung jawab etis peserta didik.
Dengan mengusung semangat “Collaborate, Innovate, Transform Education for a Better Future,” OCERI 2026 menjadi ruang penting bagi pertukaran gagasan dan jejaring akademik lintas institusi.
Keikutsertaan Dr. Dedi Efrizal dalam forum tersebut diharapkan dapat semakin memperluas jejaring akademik UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu sekaligus membuka peluang kolaborasi penelitian, publikasi ilmiah, dan inovasi pembelajaran yang relevan dengan tantangan pendidikan di era transformasi digital dan kecerdasan buatan.
Kontribusi akademik tersebut menjadi bagian dari langkah UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu untuk terus hadir dalam perkembangan ilmu pengetahuan, memperluas jejaring internasional, dan mendorong lahirnya inovasi pendidikan yang tetap berpusat pada manusia.
